☼ Rumondang | contoh cerpen karangan Anak bangsa ☼


☼ Rumondang  | contoh cerpen karangan Anak bangsa


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh saudara saudariku sobat asa blog yang kucintai karena Allah subhanawataalla. Asa blog sendiri  ingin menjawab keinginan sahabat untuk membaca cerpen cerpen buatan anak bangsa Indonesia,
Berikut cerpennya selamat membaca kawan . J

Simpang empat Tanah Abang. Hari begitu terik. Aku baru saja turun dari bis 82 jurusan Senen-Tanah Abang yang selalu sarat dengan penumpang itu. Huh, lega sekali rasanya! Kutarik nafas panjang beberapa kali. Meski hanya udara penuh polusi yang kuhirup, aku cukup senang dari pada dalam bis tadi..., hampir tak bisa bernapas! Subhanallah.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling...lumayan ramai! Yaa, namanya juga mau lebaran! Berkali-kali tubuhku terdorong ke sana ke mari karena lalu lalang mereka yang berbelanja atau tersenggol para pedagang keliling. Belum apa-apa peluh sudah sudah mengucur deras di keningku. Aku berjalan terus. Dari lampu merah prapatan, kemudian belok kanan. Niatku memang ke toko sepatu. Maklum sepatuku satu-satunya, yang tengah kupakai ini, sudah mulai mangap di sana-sini.

Sambil berjalan mataku terus melirik ke berbagai barang yang dijual para pedagang kaki lima. Macam-macam yang mereka gelar di trotoar. Dari mulai dompet, pakaian, makanan ringan sampai alat-alat rumah tangga. Aku terus berjalan melewati para penjual yang sibuk menawarkan dagangan mereka itu. Tiba-tiba mataku tertumpu pada sapu tangan-sapu tangan beraneka warna yang tersusun rapi, beralaskan selembar dua lembar koran bekas.

Aku berjongkok, mengamati sapu tangan-sapu tangan itu. Ada yang berbunga-bunga, garis-garis, bergambar dan ada pula yang bermotif bola-bola. Lucu-lucu dan mungil serta tampak halus sekali.

"Satunya berapa nih, mbak?" tanyaku pada si penjual, seorang perempuan muda berkerudung hitam dengan kulit agak gelap. Ia memakai tudung kepala yang cukup lebar pula, untuk melindunginya dari panas mentari. Di sisinya duduk seorang bocah berusia sekitar tiga tahun, asyik bermain dengan sebuah mobil-mobilan plastik berwarna hijau.

"Mbak, sapu tangan ini satunya berapa?" ulangku sekali lagi, agak lebih keras.

Perempuan yang tengah membolak-balik sebuah majalah bekas itu sedikit terkejut, "Hah? O, itu dua ribu lima ratus!" katanya. Sempat kutangkap logat Tapanulinya yang kental.

"Nggak bisa kurang, kak?" tawarku, kali ini dengan panggilan kakak.

Ia tertawa sumbang, "Sudah murah kali itu, dik!"

Dengan seksama kuperhatikan sapu tangan-sapu tangan itu.

Agak bingung juga untuk memilih. Tanganku sibuk memegangi kain mungil itu satu-satu..., yang mana ya?

Tiba-tiba saja aku merasa sepasang mata mengawasiku lekat-lekat. Ya, benar, penjual sapu tangan ini tengah memandangku dari ujung jilbab sampai sepatu 'bodol'ku dan ketika aku membalas menatap, ia menunduk. Ya ampun, pikirku. Kok seperti belum pernah melihat orang saja! Ah, aku segera beristighfar.

Kupilih empat helai sapu tangan dengan corak yang berbeda. Kukeluarkan selembar sepuluhribuan. Dengan kikuk perempuan itu membungkus sapu tangan yang kubeli. Sesekali kupergoki matanya menatapku aneh.

Setelah selesai, aku segera berlalu dari situ. Kuteruskan langkah menuju toko sepatu, sekitar lima puluh meter dari sana. Aku tersentak ketika tiba-tiba saja terdengar satu suara memanggilku!

"Tia! Heh, orang Helvetia!"

Aku menoleh. Kulihat penjual sapu tangan tadi berdiri melambaikan tangan kepadaku. Aku terkejut. Tak banyak orang yang tahu aku lahir di sebuah rumah kecil di Helvetia, sebuah perkebunan di Medan. Siapa orang ini? Rasa-rasanya aku tak kenal?

Kuhentikan langkah. Sekali lagi kudengar perempuan penjual sapu tangan itu memanggil namaku. Aku berbalik. Kudatangi perempuan itu sambil mengernyitkan dahi dan memasang senyum bingung.

"Tia' kan?" kata perempuan itu dengan nada meninggi. "Tia kan? SD Budi Murni, Medan? Ya Illahi, kau tak kenal aku?"

Wajahnya menyiratkan kegembiraan yang amat sangat. Dibukanya tudung anyaman lebar yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya.

Sesaat aku berfikir keras. Siapa ya? kutatap wanita itu dengan jilbab hitam pendek ini lebih teliti. Ia masih tertawa lebar, di sela kekhawatiran. "Tia kan? katanya lagi.

Pelan-pelan aku mulai mengingat wajahnya. Aku mulai ingat warna suaranya...

"Rumondang"! pekikku. "Rumondang Gultom! Subhanalloh!" dengan riang ia kupeluk, erat-erat. Ia tertawa senang. Sementara orang-orang di sekitar menatap kami heran.

"Masya Allah! Hampir saja aku tak mengenalimu!" kataku masih dengan nada gembira, amat gembira.

Ia tersenyum, mengajakku menepi. Dipanggilnya bocah lelaki kecil yang sedang bermain sendiri itu.

"Ayo, salaman dulu sama tante!"

Bocah yang tampak lusuh dengan kedua bola mata yang nakal itu menatapku jenaka, kemudian mencium tanganku.

"Anakku, Tia..."

Aku menggeleng-gelengkan kepala, tertawa.

"Duduk di sini dulu!" Rumondang menarik tanganku. Mengajakku duduk di sebuah bangku panjang milik penjual minuman yang mangkal tepat di belakang dagangannya.

Bocah kecil anak Rumondang rupanya kehausan. Ia berbisik-bisik pada ibunya minta dibelikan minuman.

"Tante beliin ya?" kataku ramah. Kupesan sebotol teh botol. "Mau?" tanyaku pada Rumondang.

"Insya Allah saum," katanya tersenyum. Sementara anaknya segera berlalu dan sibuk dengan mobil-mobilan hijau kusamnya, setelah mengucapkan terima kasih dengan suara cadel.

"Sudah jadi orang kau rupanya ya?" Rumondang mencubit lengan kananku.

"Alaaaa, bisa saja! Masih seperti inilah! Masih kuliah dan numpang pada orang tua!"

Ia tertawa lebar. Kulihat deretan gigi putih dan kecil-kecil yang rapi tersusun. Ia benar-benar Rumondang, sahabat lamaku! Hanya..., mengapa pula ia jadi begini?

Aku masih ingat betul. Sejak balita aku sudah kenal dengannya! Rumah kami sama-sama di sekitar Helvetia yang waktu itu masih wilayah perkebunan teh dan belum menjadi perumnas seperti sekarang. Kedua orang tuanya memang asli dari Tapanuli Utara dan memiliki beberapa hektar kebun kelapa sawit didaerah asalnya itu. Kemudian kami bersekolah di sekolah yang sama, sampai kelas enam. Setelah itu aku pindah ke Jakarta karena papa pindah tugas, sedang Rumondang tetap di Medan. Tak pernah kami berjumpa setelah itu! Sehelai kain ulos yang diberikannya pada saat perpisahan dulu masih kusimpan hingga kini. Tapi..., ya, Rumondang temanku yang dulu itu beragama nasrani! Bapaknya pemimpin gereja! Tapi ini...? Apakah ia...

"Ceritakan tentang keluargamu, Tia!" pinta Rumondang membuyarkan lamunanku. "Rindu kali aku sama mami!" sambungnya lagi.

Alakadarnya kuceritakan kehidupan kami kini. Papa dan mami yang rukun-rukun saja, adik-adik yang masih melanjutkan sekolah, aku sendiri yang mencari nafkah dengan menulis lepas sambil bertekad terus melanjutkan kuliah.

Rumondang menyimak ceritaku. Wajahnya tampak turut senang. Sementara di benakku penuh pertanyaan. Mengapa ia jadi begini? Diam-diam kuperhatikan dirinya. Ia benar-benar tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Kulitnya yang dulu putih kini bahkan lebih gelap dariku. Garis-garis wajahnya yang dulu tegas kini kian tegas dengan rahang yang agak menonjol. Ia tampak begitu kurus, tampak tak terurus. Hanya pada matanya masih kutemukan binar yang sama seperti dulu, yang menyiratkan semangat hidup nan begitu tinggi. Bertubi-tubi pertanyaan menimbun benakku. Ya Allah, apa yang terjadi sampai ia bisa terlihat seperti ini?

"Beginilah hidupku sekarang, Tia...," tuturnya kemudian tanpa kuminta. Kulihat nuansa ketabahan yang mendalam pada dirinya. Kesiapan menghadapi ganasnya kehidupan. Saat ini ia tampak tak beda dari begitu banyak wanita Tapanuli yang tegar dengan wajah mereka yang selalu tampak serius dan sangar, namun di dalamnya tersimpan sejuta kehangatan.

"Tadinya malu juga aku menegurmu. Takut nanti kau pura-pura lupa. Pura-pura tak kenal," ia menghela napas panjang. "Kau tahu, Tia...kau sangat beruntung!"

Kulihat si wajah tegar ini menatap kosong kedepan. Matanya berkaca-kaca.

"Belum lagi tamat SMP, aku diusir papa...," katanya parau. "Aku masuk Islam dan papa marah besar. Ia mengamuk membabi buta memukuliku kemudian mengusirku..."

Aku tersentak! Subhanallah, benar dugaanku....

"Aku sering dengar suara adzan, Tia! Begitu menyentuh, membuatku terenyuh, menangis... dan alhamdulillah aku dapat hidayah," kata Rumondang lagi, tersenyum. "Aku pergi dari rumah dengan bekal sedikit uang tabungan. Akhirnya aku diangkat anak oleh seorang haji di Sei Kera. Orang tua yang baik. Waktu usiaku tujuh belas tahun. Aku dinikahkan dengan anaknya." sekejap mata Rumondang berbinar.

"Lantas...?"

"Suatu malam..., rumah mertuaku terbakar. Musnah semua! Waktu itu aku dan Bang Siregar suamiku sedang pergi kerumah seorang kawan...," air mata Rumondang mengucur cepat, dan dalam sekejap binar di matanya sirna.

"Innalillaahi...," ujarku pelan.

"Mertua dan seorang adik suamiku tewas hangus terbakar...akhirnya aku dan suamiku pergi merantau ke Binjai. Kami mengontrak rumah kecil-kecilan. Aku sempat jualan kue untuk membantu suamiku. Ya..., berapalah penghasilannya sebagai seorang supir truk..., tapi kemudian..."

"Kenapa?" tanyaku hati-hati.

"Ia...tewas ditembak 'bajing loncat' ketika berusaha mempertahankan muatan truknya dari Pekan Baru ke Binjai! Saat itu aku tengah hamil tua...," katanya sambil mengusap air mata.

Aku menunduk sedih. Kasihan Rumondang...

"Aku pigi ke Jakarta ketika ada kawan yang mengajak tinggal bersamanya di sini. Sudah macam famili juga...," suara Rumondang terdengar parau sekali.

"Cobaan, sobat! Kau sedang diperhatikan Allah!" kurangkul bahunya dengan tangan kananku. "Subhanallah, aku bangga sekali dengan ketabahanmu...," kataku tegas meski dengan suara agak tersekat di kerongkongan. "Mainlah kau ke rumahku!" kukeluarkan kartu namaku, kuberikan padanya. "Ajak anakmu, mami pasti senang! Atau...eh, kalau perlu kau tinggal di rumahku saja! Lebaran dengan kehadiranmu..., wah lebih semarak, Mondang!" kataku tulus. Aku berusaha menghalau dukanya yang membias kembali itu.

Ia tersenyum. Matanya masih basah, masih merah.

"Oya, ini tak banyak, tapi ambillah!" kusodorkan padanya tiga lembar uang sepuluh ribuan.

Rumondang menatapku sedikit tersinggung. Aku jadi tidak enak.

"Jangan Tia, aku tak bisa menerimanya!"

"Mondang...,"

"Aku tak mau dikasihani! Kau tak perlu terlalu tergugah dengan ceritaku."

"Ya Allah! Heh, siapa pula yang kasihan sama kau?" balasku. Ini bukan buatmu! Tapi buat anakmu!"

Kulipat-lipat kecil uang yang sedianya akan kubelikan sepatu itu. Kuhampiri anaknya yang rupanya kini asyik bermain dengan botol kosong teh botol yang habis diminumnya tadi. Ah, urusan sepatu jebol, urusan nantilah, pikirku.

"Ini buat..., siapa nama kau, Ucok?"

"Ti...gol...cola...udin...cilegal," kata bocah itu sambil tertawa menggemaskan. Kubelai kepalanya. Ia melirik jenaka ke kantong bajunya yang kuselipkan uang tiga puluh ribuan itu. Matanya tak lepas memandang Rumondang yang mengawasi dari jarak tak begitu jauh.

Tiba-tiba terdengar keributan disekitar. Beberapa pedagang kaki lima tampak berlari membawa dagangannya melintasi kami.

"Pembersihan! Pembersihan!" terdengar orang-orang berteriak.

Aku terkejut. Kulihat para penjual di sekitar kami segera mengemasi barang dagangannya. Tukang jual sepatu, penjual baju, penjaja makanan, dan para penjual lainnya yang menggelar dagangan mereka di atas trotoar, segera berlari tergesa dan lintang pukang meninggalkan tempat itu.

"Mondang!"

Kulihat Rumondang sibuk membenahi sapu tangan-sapu tangan yang tadi digelarnya beralasan koran di atas trotoar. Ia tampak agak panik. Sementara tangan kecil Tigor sibuk membantu ibunya memasukkan semua sapu tangan itu ke dalam sebuah tas hitam yang lumayan besar. Aku berjongkok dan turut membantu. Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang menyayat-nyayat sanubariku yang paling dalam. Nyeri.

"Cepat sikit, Tigor!" kata Rumondang dengan suara agak bergetar. Sementara itu para pedagang kaki lima berlarian kesana kemari, berusaha menyelamatkan dagangan mereka.

"Tia, maafkan, aku harus pergi!" kata Rumondang parau. Dipeluknya, diciumnya pipiku dengan tergesa-gesa. Kali ini tak ada yang sempat memperhatikan kami.

"Rumondang, aku...," pandanganku mulai kabur. Rasa-rasanya sebentar lagi air mataku akan jatuh!

Belum sempat kuteruskan kata-kataku, tiba-tiba Rumondang sudah berlalu dari hadapanku. Kulihat ia berlari. Tangan kanannya menjinjing tas hitam, sementara tangan yang kiri menuntun Tigor. Ia nampak payah, namun terus mencoba berlari!

Aku menoleh ke belakang. Kulihat para petugas yang melakukan pembersihan sudah dekat. Sempat kulihat pula beberapa pedagang kaki lima yang terjaring. Barang-barang mereka disita, dicampakkan begitu saja ke atas mobil petugas. Beberapa pedagang yang membandel sempat pula mendapat tendangan.

Segera kukejar Rumondang. Tak kupedulikan keletihan yang bersarang di diri, dan kerongkongan yang terasa kian kering. Belum pupus rindu di hati ini, belum pula kutahu dimana ia kini menetap. Aku berlari terus mengejarnya. Tak peduli air mata yang mengalir...terus mengalir.

Agak jauh di depan kutangkap sosok Rumondang dan anaknya yang terseok-seok berlari, menyeruak ditengah kerumunan para pedagang dan pembeli yang sama-sama panik. Sesekali kulihat ia menoleh ke belakang, melambaikan tangan seolah mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku terus mengejarnya.

Tiba-tiba sebuah bajaj berhenti tepat dihadapanku. Nyaris aku tertabrak! Aku menggerutu. Tukang bajaj itu malah mengomeliku! Aku sedikit menepi, berjalan setengah berlari, menyelip-nyelip di antara keramaian. Sia-sia! bayangan Rumondang hilang sudah! Lemas sudah seluruh tubuhku. Napasku tersengal-sengal, kerongkongan terasa sakit benar. Dengan rasa sebal kutatap para petugas berseragam, yang melintas dihadapanku dengan langkah pongah, masih berusaha menjaring rekan-rekan Rumondang yang lain, yang belum sempat mengemasi dagangan mereka.

Aku jadi benar-benar sebal pada petugas itu, sebal pada Tanah Abang, sebal pada para pemimpin kota yang menyerukan pembangunan namun dalam prakteknya banyak terlihat hal-hal yang tak manusiawi. Aku sebal. Sebal karena kata-kata 'pembersihan' telah memisahkanku dengan saudaraku Rumondang yang malang!

Kutarik napas dalam-dalam dan beristighfar. Astaghfirullah al azhiim. Masih kuingat wajah tegar nan pias milik Rumondang saat berlari bersama anaknya tadi. Masih jelas terbayang di mataku lambaian tangannya dan beberapa helai sapu tangan yang jatuh satu-satu dari tas hitam yang tak sempat ditutupnya. Aku masih ingat itu.

Kuambil sehelai tissue dari dalam tas. Kuhapus air mata yang menganak sungai. Aku ingat sekali, dulu waktu kami masih sama-sama sekolah di Medan, Rumondang selalu menjulukiku "si cengeng". Entahlah, terserah padanya. Tapi kuakui aku memang tak sekeras, tak setegar dia...meski aku paling tak suka kalau ia sudah mengeluarkan julukannya padaku itu. Ya Robbii, tapi kali ini kuingin orang Tapanuli Utara itu tahu aku menangis! Bukan, bukan untuk kemalangan, tapi untuk ketabahan! Untuk ketegaran yang ditampakkannya!

Langit Tanah Abang tampak pucat. Bola merah raksasa bergulir pelan-pelan. Sebentar lagi hari ke-25 Ramadhan berakhir.

Aku tahu Allah besertamu, Rumondang..., tapi kemana harus kucari engkau kini?
Sumber inspirasi : kota santri [dot] com , Republika [dot] com , helvitiana rosa , MQMedia[dot]com ,dakwah.org serta beberapa majalah dan buku kumpulan cerpen