Anda Pengunjung ke

☼ Tegar Melawan Arus | contoh cerpen karangan Anak bangsa ☼

Friday, November 11, 2011 | comments


☼ Tegar Melawan Arus  | contoh cerpen karangan Anak bangsa


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh saudara saudariku sobat asa blog yang kucintai karena Allah subhanawataalla. Asa blog sendiri  ingin menjawab keinginan sahabat untuk membaca cerpen cerpen buatan anak bangsa Indonesia,
Berikut cerpennya selamat membaca kawan . J

"Pak, Lis nggak mau kerja!" lapor Budi salah seorang anggota timku. Dan aku mengerutkan kening.
"Sejak dia datang, saya dan teman-teman sudah menduga kalau dia ikut aliran Islam garis keras. Dan sekarang, terbukti kan?" lanjut Budi berapi-api.
"Kalau laki-laki sudah saya tampar dia! Dia bilang begini Pak, "Bud, aku sudah menyelesaikan bagianku. Kutemukan kesalahan dalam pembebanan biaya sebesar ini. Kalau sekarang aku harus memperkecil atau menghilangkan kesalahan ini, walaupun ditawari imbalan satu milyar pun aku tidak bersedia! Kalau hasil kerjaku ini merisaukan kalian, aku bersedia mundur"", Budi dengan sinis mengulang kalimat Lis.
"Huh, munafik banget dia, sok suci, sok nggak butuh, sok,...!" Tambah Budi belum puas.

"Sudahlah Bud!"aku berusaha menghentikan umpatannya.
"Bapak nggak kesal dengan kata-katanya? Harusnya Bapak marah dong!"
"Nanti saya bicara langsung sama Lis. Sekarang, selesaikan saja pekerjaanmu!".

Lalu Budi meninggalkan mejaku. Aku terpekur. Sebagai Ketua Tim sekaligus Koordinator Bidang Pemeriksaan, masalah ini seakan menamparku. Marah tapi ragu. Karena baru kali ini kutemukan seorang pemeriksa yang berprinsip seperti Lis. Ya, seperti aku dan yang lain, ditegaskan pada bidang pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan adalah suatu rejeki nomplok. Banyak orang yang menginginkannya. Ladang basah, katanya! Tapi heran sama yang satu ini. Kok malah tidak mau!

Namanya Lisda Roselinda Kusnadi. Manis, anggun, tinggi semampai, tuturnya ramah dan penuh senyum. Dia baru saja meraih gelar sarjana akuntannya. Umurnya diperkirakan 24 tahun. Dandanannya.... alamaak...!!! Di kantor juga banyak yang pakai jilbab, tapi tidak seperti dia. Bajunya ukurannya extra large alias gombrong. Jilbabnya menutup hampir sebagian tubuhnya. Dari lima bujangan yang ada di ruanganku tentunya termasuk aku. Sepakat kalau Lis memang good looking. Tapi sayang, penampilannya kampungan banget. Tapi seperti biasalah, ada yang menyukai karena keramahan dan kebaikannya, dan ada juga yang membencinya karena ke-sok suciannya. Ya... namanya juga manusia.

Sejak pertamakali kedatangannya. Penampilan Lis memang sudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Sedangkan aku, entah mengapa justru merasa tertarik. Melihat pribadinya aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini kucari. Dia berbeda dengan wanita-wanita yang pernah jadi pacarku. Ya.. terus terang saja aku sempat merasa antipati pada perempuan karena trauma atas kegagalanku menuju jenjang pernikahan. Namun dengan adanya Lis, justru menggugah keinginan yang lama terpendam. Apakah aku jatuh cin...., ah aku tidak mau memvonis diriku sendiri. Aku kan atasannya!

***

"Suka baca juga ya?" tanyaku ketika berada di depan mejanya. Dia tersenyum dan mengangguk. Kulihat sekilas ada alquran kecil, majalah Ummi, Sabili, dan beberapa buku Islam yang masih asing bagiku.

"Boleh aku pinjam?"
"Oh. Silakan Pak..." Jawabnya kaget sambil menyodorkan bukunya. Lalu kuambil buku tentang pernikahan.
"Kaset apa ini, Lis?" tanyaku sambil meraih sebuah kaset.
"Nasyid, Pak" jawabnya kikuk.
Nasyid?, sepertinya berbau-bau arab. Tapi malu ketahuan bengongnya aku pinjam juga kaset itu. Dan hatiku penuh pelangi.

***

Aku terhenyak dari lamunanku. Aku teringat janjiku pada Budi untuk bicara langsung pada Lis. Diingat-ingat, sejak awal aku merasa ragu mengikutkan Lis dalam kerja timku. Jujur pula aku akui, aku memang merasakan ada kesalahan dalam cara kerjaku selama ini. Ada permainan kotor. Aku sempat berpikir sama seperti Budi. Bahwa dia munafik! Ya biasalah namanya juga pegawai baru, idealismenya masih menggebu. Dan suatu saat, bisa jadi ia berubah!

Dan baru esok harinya, kupanggil Lis. Dia duduk menunduk di depan mejaku.
"Maaf Pak, apakah ini masalah pemeriksaan di PT Dressindo?" Lis menduga.
"lya betul ..." jawabku berat.
"Bapak pasti sudah mendengar cerita Budi.." Aku mengangguk. Menarik nafas bimbang.
"Pak..., saya minta maaf keberadaan saya mengganggu kekompakan tim. Tapi saya mohon Bapak bisa mengerti dengan keberatan saya. Sungguh saya tidak mau dan tidak bisa kalau harus memanipulasi data walaupun itu saling menguntungkan. Bukannya saya sok alim atau apalah menurut penilaian Bapak, saya hanya ingin mengerjakan segala sesuatu dengan kejujuran. Saya bisa berbohong, tapi apakah Bapak berani menjamin bahwa Allah tidak akan tahu?" Sekali lagi aku ditamparnya.

"Tapi Lis...., dengan prinsipmu itu berarti kamu melawan arus. Dan resikonya kamu bisa..."
"Saya tahu Pak. Bahkan saya sudah merasakannya sekarang. Digunjingkan, dianggap aneh, mungkin sebentar lagi disingkirkan. Berat memang saya rasakan. Tapi lebih berat lagi azab Allah, jika saya tidak menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang-Nya, Itu saja pertimbangan saya."

Kurasakan ada keteguhan dari ucapannya. Sungguh, aku kagum padanya. Aku pernah membaca sebuah hadits dari buku yang dipinjamkan Lis padaku. Dan sungguh, itu membuatku mulai mengerti dengan sikapnya yang melawan arus, begini "Jika kejujuran telah diabaikan, tunggulah kehancuran".

"Baiklah .. , saya akan mencoba mencari jalan keluarnya." janjiku mengakhiri pembicaraanku. Aku sudah tidak kuat, aku malu! Sungguh aku mengakui kebenaran yang diperjuangkannya. Kau bagaikan sekuntum mawar yang tegar di tengah gelombang kehidupan, Lis!

***

Lis akhirnya dikeluarkan dari Tim. Bosku yang memutuskannya. Kini dia hanya mengerjakan pekerjaan adminstrasi saja. Walau ia disingkirkan dan dijauhi, kulihat ketegaran pada dirinya. Tidak terlihat frustasi atau suram di wajahnya. Entahlah kalau itu terjadi padaku.

Lis tetap seperti Lis yang dulu. Ramah, murah senyum, dan taat beribadah. Aku kagum padanya. Jarang ada orang yang bisa Istiqomah di tengah-tengah uang yang berlimpah. Aku coba berdiskusi dengannya, menanyakan resep keteguhannya. Dan kunci dari itu semua adalah kebersihan hati. Perlahan aku menemukan cahaya dan ritme kehidupan yang lebih indah dengan kebersihan kerja, tutur kata, dan perilaku, walaupun tanpa bergelimang harta. Syair lagu dalam kaset pemberian Lis sungguh membantu menggugah kesadaranku.

Barangsiapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya, niscaya kan letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa
Allah melihat, Allah mendengar, segala sikap dan kata-kata
Tiada kan luput satu pun jua, Allah tak kan lupa selama-lamanya....


***

Mawarku yang tegar ternyata bukan milikku. Lis menikah. Aku sempai terpuruk. Tapi aku segera bangkit. Aku akan belajar seperti Cintanya "The Fikr" Membersihkan hati untuk menggapai cinta ilahi yang hakiki.
Sumber inspirasi : kota santri [dot] com , Republika [dot] com , helvitiana rosa , MQMedia[dot]com ,dakwah.org serta beberapa majalah dan buku kumpulan cerpen


Artikel Terkait:

Syukron Sudah Share Artikel :

Post a Comment

mohon tidak melakukan spam

klik suka pada halaman facebook kami