DICARI, PENDENGAR YANG BAIK


Kesempatan bagi kita untuk tidak 100 persen menyimak semakin lama rasanya menjadi semakin besar. Adanya perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer tablet sangat menarik perhatian kita karena kayanya informasi bisa kita dapat, tanpa kita perlu berpindah tempat.

Begitu kuatnya daya tarik ini sehingga kita seringkali mengabaikan individu lain yang saat itu sedang duduk bersama kita. Padahal, kita semua sama-sama sadar bahwa tidak cukup hanya membaca, meriset atau mendapat pengetahuan dari sumber yang saat ini sedang populer-populernya, yaitu Big Data, untuk mempelajari sesuatu secara tuntas. Dibutuhkan adanya interaksi yang intensif mengenai materi tertentu. Bahkan, kegiatan menyimak ini harus menangkap bukan saja apa yang diungkapkan secara verbal, tetapi juga yang terungkap melalui bahasa tubuh, mimik, dan isyarat menjadi sangat penting. Kegiatan brainstorming juga secara signifikan bisa menumbuhkan ide-ide baru yang tadinya belum ada di big data manapun juga, yang baru muncul karena proses diskusi, saling berargumen, saling mendengar, memperhatikan concern-concern dari pihak-pihak yang terlibat.

Mendengar: mencari kesempatan

Banyak orang beranggapan bahwa mendengar adalah bagian kecil dari komunikasi. Kita banyak sekali mendapatkan kursus berbicara depan umum, komunikasi bisnis, negosiasi dan lainnya. Sementara, hampir tidak pernah ada kursus untuk mempertajam kegiatan mendengar, karena kurangnya keterampilan mendengar ini kadang sulit untuk diukur dan diraga. Ada individu yang begitu sibuknya dengan diri sendiri sehingga tidak sadar bahwa ia tidak mendengar dengan tuntas, ada yang mendengar hanya hal-hal yang sesuai dengan pendapatnya untuk membuktikan kebenaran dirinya. Mungkin kita pernah benar, tetapi sekarang ini kita tetap perlu mendapat masukan, karena kebenaran yang kita pegang bisa saja sudah  perlu diperbaiki.

Atasan sering tanpa sadar membuat kesalahan fatal. Karena biasanya mereka memang memiliki pengalaman lebih, dan seringkali menjadi role model maupun tempat bertanya bagi anak buahnya, bisa jadi  hal ini membuat mereka mempunyai kecenderungan mendominasi pembicaraan. Mereka cepat membantah, sebelum orang  menyelesaikan pernyataan. Mereka tidak mendengar tuntas, apalagi mencerna dan menerjemahkan dahulu ungkapan lawan bicaranya. Apalagi bila pendapatnya dibantah, keluarlah kekuatan-kekuatan dan hak vetonya.

Mereka lupa bahwa mereka pun bisa belajar dari anak buahnya, sehingga mereka harus lebih memanfaatkan kemampuan mendengarnya. Bagaimana pemimpin seperti ini bisa mendapat data dari bawahan dengan benar? Kita sering mendengar istilah "pembisik", orang-orang dekat yang lebih didengar oleh pemimpin, dan merupakan sumber informasi bagi para pemimpin. Alangkah berbahayanya hal ini bila pemimpin tidak kritis untuk menyadari perolehan informasi dari segelintir pihak saja bisa menimbulkan bias.

The best leaders are proactive, strategic, and intuitive listeners. Seorang pemimpin yang baik, perlu melakukan multitasking dalam mendengar. Ia harus menyimak yang tersirat dari yang tersurat dalam pembicaraan, bahkan menemukan hal yang tidak dikatakan, dibuktikan dan didengar. Ia pun perlu meramu apa yang sudah dia tahu dengan informasi yang baru diperoleh. Ia seyogianya tidak terpengaruh dengan komunikasi instan yang beredar sekarang ini yang bisa membuat individu terpancing berfikir cepat, tetapi tidak tuntas. Pemimpin perlu mempunyai obsesi untuk menjadi well informed mendapatkan informasi secara utuh sebelum mengambil keputusan yag bijak.

Seorang CEO yang sangat kuat mendengar selalu mengatakan bahwa di dalam rapatnya, setiap peserta rapat adalah "agenda"-nya. “Tidak akan saya biarkan peserta rapat tidak buka mulut. Mereka adalah inspirasi saya, dan saya harus menemukan aspirasi mereka, dan bisakah anda bayangkan bila aspirasi dan fakta yang mereka ungkapkan tidak didengar?“ Sukses CEO ini memang nyata sekali dalam keterampilan mendengarnya, bukan dalam berbicara. Tim-nya pun merasa happy karena mereka didengarkan. Bagaimanapun, mendengar adalah awal kepemimpinan yang terbaik.

Temukan "knowledge gap"

Saat sekarang dengan kemajuan teknologi yang superpesat, keluhan mengenai kesenjangan generasi menjadi tidak relevan lagi. Ada golongan milenial yang lebih cepat dalam mengakses informasi. Namun, generasi yang lebih senior bisa jadi memiliki pengalaman lapangan yang lebih banyak.

Di sinilah tantangannya. Kita perlu senantiasa menyadarkan diri dan bertanya, ”Apa yang saya belum dan tidak ketahui?” “Bagaimana saya bisa mengisi kekosongan tersebut?” Setiap memasuki situasi, masalah, atau tantangan baru, kita perlu dengan cepat mengidentifikasi, apa yang tidak kita tahu, serta dari mana dan siapa kita bisa mendapatkannya. Hal lain yang juga perlu kita yakini adalah bahwa hampir 85 persen dari apa yang kita tahu didapatkan dari hasil mendengar. Jadi, kita perlu mengaktifkan kemampunan mendengar 360 derajat, agar bisa meminjam sudut pandang orang lain, menerjemahkan dalam pemikiran sendiri untuk mengambil keputusan terbaik.

Dimuat dalam KOMPAS, 9 April 2016