☼ Ustadz Nyleneh | contoh cerpen karangan Anak bangsa ☼


☼ Ustadz Nyleneh  | contoh cerpen karangan Anak bangsa


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh saudara saudariku sobat asa blog yang kucintai karena Allah subhanawataalla. Asa blog sendiri  ingin menjawab keinginan sahabat untuk membaca cerpen cerpen buatan anak bangsa Indonesia,
Berikut cerpennya selamat membaca kawan . J

Tidak seperti biasanya, aku tidak langsung pulang sehabis makan pada acara buka bersama itu. Aku bergabung bersama beberapa panitia yang sedang ngobrol dengan ustadz yang mengisi kultum menjelang maghrib tadi. Aku tidak tahu pasti, apa yang menarikku untuk bergabung dengan panitia-panita dan ustads itu. Apakah karena ketertarikanku pada ustadz yang memang gaya serta isi ceramahnya menarik, atau karena ada Sinta di sana? Yang jelas ketertarikanku tidak salah, karena aku bisa menikmati nimbrung dalam obrolan tersebut.

"Pak ustadz, ngomong-ngomong kok ceramahnya tadi cepet banget? Padahal isi ceramahnya menarik lho," di tengah obrolan setengah basa-basi itu aku coba menanyakan rasa penasaranku yang memang sudah kusimpan sejak sebelum maghrib tadi.

"Namanya saja kultum Mas, ya cukup tujuh menit," jawab Pak ustadz sembari tersenyum ramah. "Malah tadi sepertinya lebih dari tujuh menit. Jadi sebenarnya sudah terlalu lama Mas."

"Yaa .. kultum itu kan teori Pak ustadz," seorang dari panitia menyahuti.
"Prakteknya kan biasa bisa nyampai lebih dari duapuluh menit. Lagipula kami nggak keberatan kok kalau Pak ustads ngisi sampai maghrib. Justru kami lebih seneng, karena nggak perlu ada tambahan acara dadakan. Untung tim rebana cukup punya stok lagu. Kalau tidak, bisa pusing kami," tambahnya sambil tertawa.

"Maafkan saya deh Mas-mas dan Mbak-mbak semua. Saya tidak bermaksud membikin panitia kelabakan. Cuman karena saya didapuk untuk ngisi kultum, ya sebisa mungkin saya upayakan cukup tujuh menit saja. Dan yang lebih penting lagi, memang sebenarnya kemampuan saya cuman segitu. Saya tidak cukup punya ilmu dan kemampuan untuk ngisi ceramah lama-lama," kata Pak ustadz lagi tanpa lepas dari senyum ramahnya.

"Ah, Pak ustadz terlalu merendah," tukasku.

"Betul Mas, saya tidak merendah. Kalau memang saya cukup punya ilmu dan kemampuan, tentunya saya sudah jadi ustadz kondang. Kenyataannya kan tidak. Saya hanya kadang-kadang saja ngisi ceramah atau khotbah Jum'at di kampus. Itu pun kalau kepepet karena ustadz yang dijadwalkan berhalangan hadir, dan tidak ada lagi orang lain yang mau menggantikan. Disiplin ilmu yang saya tekuni bukan bidang agama. Saya ngisi kultum disinipun karena setengah dipaksa sama Mbak Sinta."

"Tapi saya tetep pada pendapat saya bahwa Pak ustadz ini sekedar merendah. Boleh kan berpendapat Pak?" sahutku lagi sambil melirik Pak ustadz yang sekedar tersenyum penuh arti. "Lagipula nggak mungkin Sinta setengah memaksa, jika memang tidak ada sesuatu yang istimewa yang dimiliki Pak ustadz. Ya nggak Sin?"

"Betul Mas. Pak Ahmad ini sebenarnya ustadz favorit mahasiswa-mahasiswa di kampus kami. Memang sih .. beliau nggak ngajar agama, tapi banyak orang tahu kalau beliau ini lulusan pesantren terkenal di negeri ini," Sinta membenarkan dugaanku.

"Wah .. Mbak Sinta kok buka kartu. Saya jadi nggak enak hati nih .." Pak ustadz yang bernama Pak Ahmad itu mengeluh, namun tetap dengan nada ramah dan tidak menampakkan kekesalan hati.

"Cuman Pak Ahmad ini nggak pernah mau kalau diminta ngisi ceramah. Beliau sukanya diskusi informal dengan mahasiswa. Aku juga sering kok diskusi sama beliau," Sinta melanjutkan lagi tanpa menghiraukan "keluhan" Pak Ahmad. "Makanya aku sudah wanti-wanti pada temen-temen panita, agar selesai acara Pak Ahmad jangan langsung dipersilakan pulang. Kita bisa ngobrol sama beliau, barangkali ada yang pengin didiskusikan. Di saat seperti inilah kita bisa memperoleh manfaat optimal dari beliau," lanjut Sinta. "Maaf lho Pak Ahmad, bukan maksud hati memanfaatkan Bapak dalam arti negatif."

"Waduh .. Mbak Sinta ini," gumam Pak Ahmad.

"Nah, betul kan Pak ustadz cuma merendah?" aku serasa mendapat kemenangan.

"Ya .. kalau tahu gini, saya nggak mau ngisi kultum di sini tadi," canda Pak Ahmad.

"Ngomong-ngomong, kenapa sih kok Pak ustadz selama ini nggak mau ngisi ceramah?" aku yang makin penasaran tak kuasa menahan diri untuk bertanya.

"Baiklah .. akan saya ceritakan," kata Pak Ahmad setelah menarik nafas panjang. "Tapi sebelum cerita, saya minta Mas-mas dan Mbak-mbak berjanji dulu bahwa cerita saya ini jangan sampai keluar dari sini. Cukup Mas-mas dan Mbak-mbak saja yang tahu. Gimana?"

"Saya janji Pak ustadz," aku langsung menyahut diikuti yang lain.

"Terima kasih. Mudah-mudahan Mas-mas dan Mbak-mbak bisa memegang janji masing-masing."

"Dulunya sebenarnya saya juga pernah aktif dakwah," Pak Ahmad memulai ceritanya. "Setelah lulus nyantri, saya aktif terlibat kegiatan dakwah di kampung saya. Begitu juga di kampus sewaktu saya kuliah. Namun waktu itu gaya dan cara saya ceramah dianggap kontroversial oleh para tokoh agama dan ustadz-ustadz senior. Setiap saya ceramah, selalu saya ikuti penjelasan, bahwa apapun yang saya sampaikan baik itu mengenai akidah, fiqh maupun lain-lain yang menyangkut ilmu agama pada dasarnya tidak bisa dijadikan pegangan secara mutlak, karena kebenarannya juga tidak mutlak. Kalau dalam bahasa yang lebih keren, ilmu agama itu relatif karena berangkat dari pemikiran yang spekulatif. Tidak jarang pula, kalau ceramah saya minta ada jamaah yang menyampaikan pendapatnya. Terserah dia mau menyampaikan pendapat apa saja, tanpa perlu saya potong."

"Wah, cara Pak ustadz itu memang aneh," kata seorang dari panitia saat Pak Ahmad menghentikan ceritanya sejenak. "Kenapa sih Pak ustadz milih cara seperti itu?"

"Ada beberapa alasan Mas. Pertama, saya hanya pengen jujur dan menyampaikan apa adanya, bahwa memang begitulah sebenarnya agama itu. Sebenarya cara saya itu sekedar meneladani imam-imam terdahulu, di mana setiap mengeluarkan fatwa atau pendapat selalu diakhiri dengan 'wallahu a'lam bisshawab', hanya Allah yang mengetahui yang benar. Saya hanya meneladani kebiasaan seperti itu, namun saya ubah dalam bahasa sehari-hari agar mudah dipahami dan agar bukan jadi sekedar basa-basi yang tidak ada isinya."

"Kedua," Pak Ahmad melanjutkan setelah meneguk minuman yang dihidangkan. "Ada tradisi yang menurut saya tidak sehat. Di mana seorang ustadz selalu menempatkan dirinya sebagai sosok yang serba tahu dan serba benar. Sebaliknya, jamaah selalu ditempatkan dalam posisi orang yang tidak tahu dan serba salah. Tradisi itu ingin saya ubah, makanya terkadang saya minta ada jamaah yang menyampaikan pendapat. Ada saatnya ustadz menempatkan diri sebagai seorang pendengar, dan jamaah berposisi sebagai orang yang juga berhak serta pantas didengarkan pendapatnya. Ada proses saling belajar antara ustadz dengan jamaah. Saya tahu hal ini sulit untuk diterima, karena toh pada dasarnya para ustadz sudah terlalu menikmati posisinya itu. Tapi yang waktu itu saya herankan, jika tidak bisa diterima kenapa saya juga mesti disalahkan, di mana waktu itu saya melakukan hal itu untuk diri saya sendiri, dan tidak pernah minta atau mengusulkan ustadz lain melakukan hal yang sama."

"Ketiga, saya percaya bahwa keberagamaan yang sehat itu adalah sikap keberagamaan yang berangkat dari dalam diri masing-masing orang. Bukannya hasil indoktrinasi maupun fait acompli. Allah itu lebih dekat dari urat leher, seperti tercantum dalam Qur'an. Allah juga menganugerahi manusia akal dan hati. Tugas seorang ustadz, menurut saya, mestinya mendorong agar setiap orang mampu mengoptimalkan fungsi dalam dirinya itu untuk menemukan kebenaran yang hakiki, bukannya malah menyetir. Dan kebenaran itu sebenarnya juga tidak jauh-jauh, tapi ada dalam diri manusia juga."

"Ini mirip 'manunggaling kawula lan Gusti' ya Pak ustadz?" tanyaku.

"Wah, Mas ini jangan-jangan juga tahu banyak tentang agama?" Pak Ahmad tidak menjawab pertanyaanku.

"Nggak kok Pak ustadz .. saya hanya pernah denger dikit-dikit .." aku coba menghindar.

"Nah, sekarang gantian kan Mas yang merendah?" Pak Ahmad tersenyum. "Tapi sudahlah itu urusan nanti. Saya tidak mengiyakan maupun membantah soal 'wihdatul wujud' itu, saya pengen ngelanjutin cerita saya dulu. Boleh ya Mas?" aku mengangguk.

"Saat itu situasi agak panas. Beberapa kali saya dinasehati tapi tetap tidak mempan juga. Sampai akhirnya Bapak saya ikut turun tangan. Akhirnya saya ngalah. Saya ikuti kemauan para tokoh agama dan ustadz-ustadz senior. Tapi itu tidak bertahan lama. Karena tidak tahan melawan dorongan 'idealisme' saya, kemudian saya undur diri dari kegiatan dakwah. Pengunduran diri ini adalah bentuk protes saya, bentuk protes yang pasif. Karena saya berpikir tidak ada gunanya melawan secara frontal."

"Akhirnya saya memutuskan pergi lagi dari kampung halaman, pindah ke kota ini sekaligus pindah kuliah di universitas tempat saya sekarang mengajar," lanjut Pak Ahmad.

"Kemudian Pak Ahmad melanjutkan dakwah di sini?" tanya Sinta.

"Waktu itu belum. Saya milih diam. Saya hanya diskusi kecil-kecilan dengan teman-teman dekat yang benar-benar bisa saya percayai. Sampai lulus, kemudian dikirim ke luar negeri ya tetap seperti itu. Saya mulai tergerak lagi setelah kembali dari luar negeri. Itupun masih saya batasi hanya untuk para mahasiswa. Karena saya sadar, bahwa pola pikir saya ini belum bisa diterima masyarakat luas. Saya berharap mahasiswa yang notabene lebih terdidik dan penalarannya lebih tertata bisa lebih menerima ide-ide saya, syukur-syukur kalau kelak ada yang melanjutkan .."

"Ceritanya, idealismenya udah luntur nih Pak ustadz ...?" godaku.

"Tidak juga. Idealisme itu tetap saya pegang sampai detik ini, namun memang gejolaknya sudah tidak sehebat waktu masih muda dulu. Seiring bertambahnya umur, mestinya saya juga bisa semakin arif, dan tidak asal nabrak-nabrak," jawab Pak Ahmad.

"Dan dengan kearifan itu, akhirnya lebih bisa diterima Pak?" tanyaku lagi.

"Tidak sepenuhnya. Yang dibilang Mbak Sinta tadi sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Barangkali memang ada sebagian mahasiswa yang suka dengan saya, namun ada juga arus lain yang 'anti' pada saya. Pendidikan toh tidak selamanya berhasil. Bahkan sekarang ini di kampus saya, juga di kampus-kampus lain arus gerakan agama yang menjungkir balikkan nalar sehat itu toh masih kuat."

Lantunan ayat-ayat suci melalui loudspeaker masjid, sebagai tanda waktu Isya' sudah dekat mulai terdengar.

"Pak Ahmad shalat tarawih di sini? Kayaknya menarik ini untuk dilanjutkan nanti .." tanya Sinta. "Maaf, saya hanya ikutan jamaah Isya' di sini. Setelah itu saya harus pulang, masih ada yang harus saya selesaikan. Sekali lagi maaf."
Sumber inspirasi : kota santri [dot] com , Republika [dot] com , helvitiana rosa , MQMedia[dot]com ,dakwah.org serta beberapa majalah dan buku kumpulan cerpen